10 Penyakit Langka ini Justru Malah Banyak di Derita oleh Para Guru

- Agustus 11, 2019
Terlucu.com - Cita-cita mulia kebanyakan anak ketika ditanya orang lain adalah "kalo besar nanti ingin menjadi guru". Dari sekian banyak profesi, guru masih jadi primadona di zaman milenial ini. buktinya setiap ada lowongan CPNS ribuan orang berbondong-bondong untuk mengikuti tes tersebut. Hal ini tidak terlepas dari berprofesi sebagai guru begitu diagungkan. Tidak sembarang orang bisa menjadi seorang guru. Terutama dulu, ketika sebelum tahun 2000an.

Bahkan, orang yang berprofesi sebagai guru sangat dihormati di masyarakat. Mereka dianggap sebagai orang yang serba bisa. Banyak yang meminta bantuan kepada mereka, karena dianggap sebagai orang yang paling tahu dan berwawasan luas.

Disisi lain para guru juga sama seperti manusia pada umumnya sering merasakan sakit. Namun ternyata banyak penyakit "aneh" yang menyerang para guru. penyakit ini sangat berbahaya dan harus segera diobati. Jika penyakit-penyakit ini terus muncul, segera dapatkan bantuan medis, agar tidak menular kepada guru-guru yang lainnya.


GATAL (gaji tinggal angka/tanggal)

Menyekolahkan SK di bank sebagai agunan, sepertinya sudah menjadi tradisi di kalangan guru. Apalagi proses pencairannya terbilang mudah dan cepat, sehingga membuat para guru tertarik beramai-ramai menggadaikan SK PNSnya untuk meminjam uang. Hal ini berakibat setiap datang waktu gajian, gaji di rekeningnya tinggal angka saja, uang tersebut sudah tertarik otomatis sebagai kredit membayar utangnya.

TIPUS (Tim pemburu sertifikasi)

Bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik, tentu setiap triwulan akan berburu Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang biasanya akan ditransfer melalui rekening bank. Akan tetapi tunjangan sertifikasi tersebut pembayarannya sering terlambat. Hal ini membuat banyak guru khawatir, takutnya ada kekeliruan dalam input data di dapodik sehingga status info GTKnya tidak valid, yang akan berakibat tunjangan tersebut ditangguhkan pencairannya.

KUDIS (Kurang Disiplin)


Salah satu masalah pendidikan di Tanah Indonesia adalah motivasi dan disiplin guru yang masih rendah. Terlebih sekarang ini sedang digaungkan pendidikan karakter, selayaknya sikap disiplin ini harus jadi perhatian utama.

Sala-satu tugas guru mendidik para siswa akan nilai disiplin dan keteraturan. Namun banyak kalanya, siswa sudah masuk kelas tetapi gurunya belum datang apalagi kepala sekolahnya. Kadang ada juga guru yang nyaman mengajar pakai sandal, padahal muridnya wajib pakai sepatu. Atau ada guru yang merokok, padahal jelas aturannya siswa dilarang keras merokok.

Terlebih parah jika para guru sudah terkena penyakit akut lainya, seperti AIDS (alpa, izin, dan sakit), PUCAT (pulang cepat), dan ASMA (asal masuk). Ketidak hadiran guru baik karena alfa, sakit, maupin izin jelas itu merugikan siswa. siswa yang niatannya mau belajar, justru malah bermain setelah tiba disekolah. Ada juga guru yang hanya sekedar masuk, siswa cukup dikasih tugas mencatat saja dan gurunya bisa pulang cepat, yang terpenting absennya lancar.

KURAP (Kurang Persiapan)

Persiapan diwajibkan dalam segala hal agar hasil yang dituju bisa optimal, termasuk menjadi guru yang akan mendidik para siswa. Bagi seorang guru, banyak hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari Silabus, RPP, bahan ajar, media pembelajaran, dan alat evaluasi. Akan tetapi, banyak sekali guru yang mengabaikannya, dengan berbagai alasan seperti terlalu sibuk atau bahkan lagi sakit TBC (Tidak Bisa Computer). Di era sekarang segala peradmintrasian disekolah khususnya, berkaitan erat dengan komputer. Hal ini menjadi beban tersendiri bagi guru yang berusia agak tua. Kebanyakan skill komputer mereka kurang, sehingga lebih memilih membeli perangkat pembelajaran yang sudah jadi atau melalui jasa.

Kurangnya kesiapan yang dilakukan oleh guru lainnya, dibuktikan dengan banyak guru yang menyampaikan materi dengan LESU (lemah sumber). Mengandalkan satu buku tertentu sebagai sumber belajar, mengindikasikan kebiasaan guru yang sangat jarang membaca buku atau mencari informasi yang menunjang profesi keguruannya. akan menjadi hal yang memalukan jika ada siswa yang bertanya, lantas guru tersebut tidak bisa menjawab dikarenakan lemah sumber alias jarang membaca.

Di kasus lainnya ada juga guru yang punya penyakit KRAM (kurang terampil), dalam artian gaya belajar mereka menggunakan metode ceramah dan CBSA saja. CBSA disini singkatan dari Catat Buku Sampai Habis, akibatnya kelas akan menjadi sangat pasif dan cenderung membosankan.

Bagi guru, mungkin ini semacam kebiasaan buruk atau sesuatu yang harus diperbaiki untuk menuju guru profesional. Guru yang tidak bisa memberikan keteladanan kita sebut saja sebagai “guru penyakitan”. Karena mereka hanya bisa menjadi virus dalam proses kegiatan belajar mengajar. Guru-guru tanpa keteladanan inilah yang nantinya hanya akan menjadi beban anggaran negara. Mereka minim kontribusi dan tidak punya komitmen serta goal yang jelas sebagai guru. Guru-guru ini menciptakan iklim pendidikan yang serba instan dan tidak kondusif, serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya ada di dalam setiap denyut jalannya proses pendidikan.
Hosting Unlimited Indonesia
 

Ketik dan Tekan Enter Untuk Mencari!